Skip to content

Pelajaran Dari seorang Pengasuh

June 11, 2010

Seperti biasa pagi hari kuantar anakku sekolah. Ini hari kelima dia masuk sekolah, anakku masih minta ditemani karena masih merasa asing dengan lingkungannya. Aku menunggunya diluar kelas dan kuhabiskan waktu 2 jam itu, untuk membaca walau hanya sekedar cerpen atau novel islami.
Satu hari berikutnya aku lupa membawa buku. Tak ada yang dapat kulakukan saat itu, aku hanya bisa terduduk dan diam. Kulihat sekitarku begitu banyak teman ibu-ibu lain yang juga menunggui anaknya, ada yang sedang bercakap satu sama lain, ada juga yang menawarkan barang-barang. Sepertinya ibu itu mendapat respon cukup baik dari teman-teman lainnya, ada juga para pengasuh yang sibuk bercakap melalui telepon genggamnya, sambil mondar mandir tanpa memperhatikan anak yang sedang diasuhnya, kunikmati pemandangan itu, hingga pandanganku tertahan pada seorang ibu yang dengan telaten menunggu anaknya di depan kelas sepertinya dia mencemaskannya, kemudian bu guru keluar mencari ibu itu, ternyata anaknya mimisan. Diapun segera masuk kelas dan kulihat betapa sigapnya ibu itu, dia bersihkan semua darah yang mengalir dari hidung anaknya, dia panik tapi dia bisa mengendalikan situasi. Sesaat kemudian Bu guru menyarankan agar anak itu dibawa pulang saja, tapi anak itu belum mau pulang, dan akhirnya dia menemani anaknya di dalam kelas dengan penuh kasih sayang, bel jam pulangpun berbunyi dengan segera kuraih tangan anakku yang berlari menghampiriku, dia menciumi tanganku “ bunda hari ini aku dapat stiker fantastis dari bu guru, ini stikernya bun, sambil menunjukan bagian belakang tangan kanannya” sahutnya, “ wah hebat anak bunda ini “ sahutku sambil memakaikan sepatu dan bergegas pulang, kusiapkan motorku dan kubonceng anakku, sampai pada jarak yang tidak terlalu jauh aku bertemu dengan ibu yang tadi dia sedang mengayuh sepedanya bersama anaknya dibelakang dan aku menyapanya “duluan ya bu” dia pun tersenyum sambil menganggukkan kepala. Sementara di sepanjang perjalanan anakku cerita tentang teman-temannya dan bernyanyi.
Keesokan harinya seperti biasa aku menunggui anakku, ibu yang kemarin menyita perhatianku duduk tepat disebelahku, Alhamdulillah ini kesempatanku mengajaknya berbincang …
“ anaknya sudah sembuh bu ? “ aku membuka kebisuan
“ oh .. sudah bu, tapi nyuwun sewo bu, saya bukan ibunya .. saya hanya pengasuhnya dari sejak dia lahir “ sahutnya tersipu malu “ jadi panggil saja saya mbak ya bu hehe biar saya ga malu” sahutnya lagi
“ oh ya .. maaf lho mbak ta pikir sampeyan ibu’e soalnya keliatan sayang banget sama cinta “ kusebut nama anak itu yang tadinya aku panggil ‘anaknya’
“ iya bu saya sangat sayang sama cinta melihat dia tidak mendapat kasih sayang penuh dari ibunya, saya jadi iba, ibunya seorang wanita karier yang sangat sibuk, pulang kerjapun masih dihabiskannya di depan computer dengan menutup telinganya dengan headset dan mengetik sambil bernyanyi, apalagi sekarang dia kuliah lagi, tambah sibuk lagi, dia pergi sebelum cinta bangun dan pulang setelah cinta tidur, saya tak melihat ada rasa bersalah di dalam dirinya untuk cinta. Cinta sudah saya rawat sejak dia berumur dua hari bu, tanpa pernah menikmati asi, saat dia tidur saya juga yang ngelonin, ya sampai sekarang lho bu! Saya juga yang menemaninya bermain, mengerjakan PR pokoknya semuanya bu…. Saya mengasuhnya sdh hampir 5 tahun tapi saya merasakan nikmat hingga saya tak bisa berlama-lama jauh dengannya, pernah suatu saat saya pulang kampung dia sakit panas dan sayapun merasa gak enak dan serasa ada yang hilang, sayapun merasa sedih waktu itu, sampai akhirnya saya memutuskan untuk kembali kesini ternyata benar bu, ketika saya datang, cinta sedang sakit panas, diapun memelukku dan menangis sambil berkata ‘mbak jangan pergi lagi ya!’ Katanya, saat itu saya terharu dan saya merasa bersalah padanya dan kamipun menagis, seketika itu suhu badannya turun bu “ dia menceritakan semuanya dengan mata berkaca kaca. “Sejak saat itu saya tak pernah meninggalkannya lagi, walaupun untuk lebaran sekalipun pasti saya ikut mereka bu, kebetulan kampung bapaknya cinta tak terlalu jauh dari kampung saya, jadi saya masih bisa mondar mandir silaturahmi sambil mengajak cinta bersama” katanya lagi
Saat itu aku hanya bisa diam terpaku … percakapan kami berakhir setelah jam pulang berbunyi …

Sesaat setelah aku sampai di rumah dan melepas lelah akupun teringat kembali percakapan tadi, ada satu rasa yang bercampur dalam pikirku …
Waw dia seorang pengasuh yang baik, dia bisa mengasuh anak orang lain dengan setulus itu dan menganggapnya seperti anaknya sendiri, dia pasti mendapat pahala lebih besar dariku … membesarkan dan mendidik anak sendiri dengan baik itu, pahalanya sudah besar, apalagi membesarkan dan mendidik anak orang lain yah ????

Kenapa seorang ibu bisa menganggap kalau urusan karier itu lebih penting daripada anaknya?
Apa yang dicari oleh ibu itu?
Kenapa ikatan batin seorang anak dan ibu bisa tergantikan ?
Apakah anak itu menganggap keberadaan mbaknya lebih penting daripada keberadaan ibunya ?
Sayangkah anak itu terhadap ibunya kelak ?
Wallahualam …
Ih jadi merinding …

Alhamdulillah aku dapat pelajaran dari pengasuh itu …

Aku harus mendidik anakku dengan lebih baik lagi, lebih dari mbak pengasuh itu, menemani dan mengajarkan banyak hal dengan ikhlas dengan tanganku sendiri, karena aku percaya bahwa mendidik anak dengan tangan orang tuanya, pasti akan lebih baik hasilnya, dibanding dengan hasil didikan orang lain ….

Alhamdulillah aku bisa mendidik dan menemani anakku dengan tangan ku sendiri, bahkan aku nyaris tak pernah meminta tolong orang lain untuk urusan itu, walaupun kondisiku sebagai ibu dari 3 orang anak yang jarak usianya relatif dekat dan terkadang merasa repot, tapi alhamdulillah semua bisa teratasi …
Terima kasih Ya Allah aku telah mendapat kesempatan yang sangat nikmat ini ….
Alhamdulillah …

Jatiasih, 12 juli 2009

bunda

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.