Filed under: Kisah | Tags: anak lelakiku, izinkan aku berturur, neno warisman, Syaraf halus
Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu
kubilang pada ayahnya: “Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!”
Suamiku menjawab: “Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau
anak lelaki ingin seperti aku.” Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja
seperti biasa.
Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku
mengusulkan
perayaannya dengan mengkhatam kan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada
suamiku: “Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah.”
Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: “Oh ya. Ide bagus itu.”
Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya.
Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa.
Apppaa. Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia
Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya.
Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya.
Pelajaran matematika sederhana sangat mudah dikuasainya.
Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya.
Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.
Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga.
Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak
mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa
yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad
sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau
lantaran banyak tamu dan ia kelelahan.
Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah,
tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima.
Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di
rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah.
Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku.
Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan
seremeh itu, katanya.
Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai
S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu
dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil
tertawa-tawa lucu: “Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti
kulitmu!”
Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan
merasa malu. “Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin
seperti aku!” Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang
pedih di
hatiku. Ada yang mencemaskan aku. Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu.
Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu. Ahmad kecil
sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah
sambil berteriak menghentak, “Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers
anak ini!” Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.
Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad,
papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi.
Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka
seorang istri dan seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora
di dada ini.Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya.
Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya:
“Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat?
Kau tolak ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki,
kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak
suka dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!”
Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi
wassalaam.
Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau membopong
cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka
Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan
engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari
gendonganmu, “Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa
menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?”
Aku memandang suamiku yang terpaku. Aku memandang anakku
yang tegak diam bagai karang tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air
mata. Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu?
Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia
mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang
berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba.
Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di
hadapan mereka berdua, “Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan
dijemput ajal yang tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta.
Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan
keturunan demi keturunan. Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah
tangga kita! Juga di permukaan dunia.
Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa
kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya
pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa
perasaan.
Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka. Dua laki-laki
dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya. Memang tak mudah untuk
berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku.
Aku bilang: “Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang.”
Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong
bersama, bergantian menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari
depan si bayi Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh
bahagia, syukur pada-Mu Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika
semua jalan tampak buntu. Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.
Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di
tangan-Mu. Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin
sekali berkata: Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk
mengajak mereka semua menirumu!
Aamin, alhamdulillah
Oleh : Neno Warisman – `Izinkan Aku Bertutur`
Disadur dari sebuah milis :
Di saat daku tua, bukan lagi diriku yang dulu,
Maklumilah diriku, Bersabarlah dalam menghadapiku.
Disaat daku menumpahkankuah sayuran di bajuku,
Disaat daku tidak lagi mengingat cara mengikatkan tali sepatu,
Ingatlah saat-saat bagaimana daku mengajarkan,
membimbingmu untuk melakukannya.
Disaat saya dengan pikunnya mengulang terus menerus ucapan yang membosankanmu,
Bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku,
Dimasa kecilmu daku mengulang dan mengulang terus menerus sebuah cerita yang telah saya ceritakan ribuan kai hingga dirimu terbuai dalam mimpi.
Disaat saya membutuhkanmu untuk memandikanku,
Janganlah menyalahkanku,
Ingatlah dimasa kecilmu bagaimana daku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi?
Disaat daku kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern,
Janganlah menertawaiku,
Renungkanlah bagaimana daku dengan sabarnya menjawab setiap “mengapa” yang engkau ajukan saat itu.
Disaat kedua kakiku terlalu lemah untuk berjalan,
Ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku,
Bagaikan dimasa kecilmu daku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan.
Disaat daku meliupakan topik pembicaraan kita,
berikanlah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya,
Sebenarnya,topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku,
asalkan engkau berada di sisiku untuk mendengarkanku, daku telah bahagia.
Disaat engkau melohat diriku menua, janganlah bersedih,
maklumilah diriku, dukunglah daku, bagaikan daku terhadapmu,
disaat engkau mulai belajar tentang kehidupan..
Disadur dari sebuah email dari temen:
“Tiket pesawat Surabaya – Bandung Rp. 600 ribu, Kalo Surabaya-Jakarta Cuma Rp. 160 ribu… apa engga bingung tuch… matematika siapa yang salah….” quote Juddy Ang
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan harga-harga tiket tersebut. Walaupun secara matematika saya tidak tahu pasti karena terus terang saya jeblok di mata pelajaran ini, tapi perlu diketahui bahwa ada beberapa pertimbangan yang diambil oleh airline operator dalam menentukan ‘airfare’ yang berlaku, misalnya :
KONDISI GEOGRAFIS.
Sesuai data yang ada, Bandara Juanda (WRSJ-SUB) terletak pada elevasi/ketinggian 3 meter diatas permukaan laut (MSL), Bandara Soekarno-Hatta (WIII-CKG) di ketinggian 10 meter, sedangkan Lanud Husein Sastranegara terletak di ketinggian 740m. Jadi jelas bahwa jalur dari Surabaya ke Bandung itu lebih ‘nanjak dan tentu saja membutuhkan lebih banyak bahan bakar dibandingkan jalur Surabaya – Jakarta yang relatif datar sehingga lebih ‘ngirit’ bahan bakar.
JARAK.
Tarif pesawat dihitung dari besaran ‘average fare per mile’ yang berbanding lurus terhadap jarak; semakin jauh semakin mahal. Maka tarif tiket Surabaya-Jakarta tentu jauh lebih murah karena jaraknya yang saling berdekatan dengan pantai dibandingkan Bandung yang jaraknya relatif jauh dari pantai.
PROFIL PENUMPANG.
Berdasarkan survey terhadap penumpang pesawat dari Surabaya, mereka yang berangkat dengan tujuan ke Jakarta adalah dalam rangka ‘Bisnis’ (baca: cari duit), sedangkan mereka yang berangkat ke Bandung sebagian besar dalam rangka ‘Shopping’ (baca:buang duit) seiring makin menjamurnya Factory Outlet di kota kembang tersebut. Maka diadakanlah program tarif bersubsidi silang untuk meringankan ongkos penumpang yang sedang kesusahan cari duit.
OPERATIONAL COST.
Biaya pelayanan penumpang tujuan Bandung biasanya lebih mahal, karena mereka menuntut nasi timbel panas, sayur lalaban segar, gurame goreng, pete bakar, sambal cobek terasi dan es kelapa muda lengkap dengan batoknya. Hal ini tentu menimbulkan biaya tambahan karena mempersiapkan dan memasak hidangan ini di pesawat tentu lebih sulit dibandingkan katering siap-saji biasa yang cukup dihangatkan dalam microwave.
LOAD FACTOR.
Kapasitas angkut penumpang terpaksa dikurangi hingga 30-40% agar dapat memuat set cobek sambal, kelapa dewegan, panggangan ikan, kobokan tangan dll tanpa melebihi batas Maximum Take-Off Weight. Passanger seat pun terpaksa dicabut karena penumpang lebih memilih duduk lesehan di tikar, “Ameh sarasa di saung” kata mereka.
NAVIGASI.
Dibandingkan Jakarta, papan penunjuk arah jalan di kota Bandung sering tidak jelas dan membingungkan. Sering terjadi pilot salah belok dan kemudian terjebak jalan satu arah yang ternyata dipadati oleh angkot. Apalagi kemacetan yang terjadi setiap akhir pekan, menuntut pilot bekerja extra untuk menahan pedal kopling lebih lama. Oleh karena itu jangan heran bila banyak pilot yang tidak mau menggunakan argometer dan lebih memilih sistem borongan.
SUKU CADANG.
Faktor ketersediaan suku cadang turut berpengaruh terhadap besaran tarif. Bila pesawat mengalami kerusakan di Jakarta, terdapat alternatif pasar suku cadang dengan harga miring di Asem Reges, sebaliknya di Bandung besar kemungkinan justru suku cadang dan komponen pesawat itu yang dipreteli untuk mengisi stok onderdil di pasar Sumur Bandung. Jadi mungkin saja pesawat B737 yang terbang ke Bandung pulangnya berubah wujud menjadi Gantole.
FLIGHT CREW.
Prosedur standar penerbangan di Indonesia biasanya menerapkan 2-man cockpit crew. Tapi untuk penerbangan ke Bandung diperlukan crew tambahan selain Captain dan First Officer, yaitu Translator. Hal ini diperlukan untuk mengatasi kendala bahasa yang mungkin terjadi …
PILOT : “Bandung Tower, selamat siang … Japati 601 with Bravo, inbound for landing”
TOWER : “Japati 601 … rek naon maneh ka dieu?”
PILOT : “Bandung Tower, Japati 601 request permission to land …”
TOWER : “Gelo … Teu bisa! Ayeuna Persib keur tanding euy ….”
TRANSLATOR : “Sok siah … lamun teu di bere lending, urang baledog ti luhur …”
TOWER : “Anjrit …nya sok atuh lah … klir to len, mangga Japati601 ……”
PILOT : “Affirmative … Japati 601 cleared to land, Roger …”
TOWER : “Rojer nu mana deui … ngaran aing mah Asep … Asep Surasep ti Babakan tea …”
Disadur dari sebuah milis:
Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan. Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga.
Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah. Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya.
Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu.
Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.
Sampai suatu malam. Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak. Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arah saya. Sambil tersenyum ia berkata, “Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali pada Mommy!” Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya, “Tunggu…, sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?” “Nama saya Elic, Tante.” “Eric? Eric… Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric?” Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu. Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati…, mati…, mati… Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric…
Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping. “Marry, apa yang sebenarnya terjadi?”"Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu.” tapi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak… Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian..
Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric.. Eric…Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali… because our lives are lived for believing in God, not because the sight of which was in front of us Tidak terlihat sesuatu apa pun! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu. Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama… Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya… Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, saya pun keluar dari ruangan itu… Air mata saya mengalir dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut.
Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau. “Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?! “Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?” Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mommy…, mommy!’ Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu!
Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu… “Saya pun membaca tulisan di kertas itu… “Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…? Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom…” Saya menjerit histeris membaca surat itu. “Bu, tolong katakan… katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!” Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.
“Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana… Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana. Nyonya, dosa anda tidak terampuni!” Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi. (kisah nyata di Irlandia Utara) because our lives are lived for believing in God, not because the sight of which was in front of us

tasya
Hari ini Senin, 12 Oktober 2009, putriku yang pertama, Nabila Tasya Anindita, mulai menempuh test mid semester di sekolahnya. Ini merupakan test pertama kali semenjak dia masuk sekolah dasar di SD Hang Tuah.
Sebagai ayahnya, aku berharap dia dapat menjalankan test ini dengan sebaik-baiknya. Usaha & semangatnya belajar merupakan modal utama untuk menjalankan test dengan sebaik-baiknya.
Sebagai orang tua yang tugasnya mengarahkan dan membimbingnya saat mencoba untuk mengenali sesuatu. Tidak ada doktrin yang kami berikan kepada anak yang mengharuskan anak menjadi ini atau itu. Peran kami hanya sebagai busur panah yang hanya bisa memicu dan mengarahkan, sementara larinya anak panah sepenuhnya tergantung dari anak panah itu sendiri.
Seperti karya Khalil Gibran:
“Anakmu bukanlah anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu
Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki ikiran mereka sendiri
Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka,
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi
Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu
Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan
Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia meregangkanmu dengan kekuatannya sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh
Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur yang telah diluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.”
Tasya, semoga engkau sukses menjalankan kewajibanmu. Amien.
Aku dibesarkan kedua orang tuaku bersama 6 saudaraku yang lain tepatnya anak ke 6 dari 7 bersaudara, bapaku agak keras dalam mendidik anak2nya hingga kami tak berani menatapnya kala dia sedang menegur kami terutama dengan hal2 yang berhubungan dengan aturan agama meski beliau bukan seorang jebolan pesantren atau sekolah islam lainnya tapi karena itu aku sangat bangga dan sayang padanya meski kadang aku rada sedikit uring2an kalau setelah terlelap dibangunkannya untuk shalat isya hihi maaf ya pa …..bapa seorang guru smp negeri dan honorer di smea swasta ya maklum anaknnya banyak jadi mengharuskannya mencari sampingan, kami jarang sekali bertemu dan bercakap2 layaknya teman2ku kala itu karena bapa menghabiskan separuh waktunya untuk bekerja dan hari minggu pun dipakainya untuk kegiatan pramuka dan lainnnya, apalagi ditambah dengan istri keduanya yang sangat ia sukai yaitu badminton hihi … tapi perhatiannya kepada perkembangan kami selalu ia pantau meski hanya bertanya pada mamaku … Mamaku seorang ibu rumah tangga biasa dengan tugas sehari2nya yang tak habis2 mama juga agak keras dlm menda2k kami dalam hal tata krama
Rasanya baru kemarin aku mengenalnya, waktu terus berjalan dengan disertai cinta dan kasih sayangnya hingga aku tak menyadari kalau 7 tahun sudah kurenda hidupku bersamanya , aku ingin meraup cintamu lebih dari selamanya .. suamiku kau motifasi hidupku .. kuharap kau tak kan mengkhianati kebersamaan ini, semoga ….
Kau bukan tipe orang yang romantis dan perduli terhadap hal2 kecil yang membuatku akan merasa tersanjung, tapi aku tau kau punya cara lain untuk mencintaku aku akan terus mencoba memehamimu dengan proses yang kau tentu sudah faham sedikit manyun tentunya hehehe
Tiga buah cinta kita yang sangat lucu dan pintar semoga selalu jadi penyangga kekuatan cinta kita …
Tasya anak pertama lahir yang cerdas, sangat focus, selalu tertarik dengan sesuatu yang blm dia ketahui namun sedikit iseng, mudah nangis mudah tertawa, mudah marah dan mudah minta maaf …
Regita anak kedua yang cerdas, banyak akal, mudah belajar walau kadang melalui proses yang berbeda dgn anakku yang pertama karena dia agak sedikit “nyeleneh “ namun dia lebih telaten dan perduli terhadap hal-hal kecil …
Kaila anak ketiga yang lucu agak pendiam tapi banyak ulah, yah sedikit iseng juga ya… anak yang percaya diri, mudah belajar, sangat jeli dan hati2 dalam segala hal, namun masih sering ngompol hehe…
Fase demi fase aku lewati sebagai ibu yang selalu ingin belajar untuk menjadi seorang ibu yang bijak dan tau cara yang tepat dalam membesarkan anak agar kelak mereka menjadi anak yang pintar, cerdas, berbudi, dan berakhlak karimah sesuai dengan aturan agama, amin …
Terkadang aku dibikin bingung kalau ke 3 anakku ini minta di peluk dalam waktu bersamaan, tak ada yang mau mengalah, atau mereka minta tolong dlm waktu yang sama dan semuanya minta didahulukan, terkadang aku tak punya waktu untuk diriku sendiri hihi tapi takapa ini adalah sebagian nikmat yang telah Allah berikan kepadaku, Alhamdulillah …
Terkadang aku merasa down jika anakku berceloteh kalau aku hanya sayang thdp salah satu diantara mereka, rasanya hatiku terluka pdhl aku sudah berusaha semaksimalku untuk bertindak adil, tapi ada saja yang membuat mereka iri dalam batas normal tentunya ya inilah proses pendewasaan diriku dan cara mengasah daya fikirku yang membuat energiku agak sedikit terkuras haha but What ever you say I will always loving you all
Alhamdulillah …. Aku masih diberi kesempatan hidup hari ini, terima kasih ya Allah sahutku sesaat setelah terbangun dari lelap ..
Kubergegas mengambil air wudhu dan shalat, aku terlarut dalam do’a untuk semua orang yang aku sayangi …
Kewajiban lainnya telah menunggu, menyiapkan sarapan untuk suami dan anak anakku tercinta … walaupun ada seorang yang membantuku untuk menyelesaikan semua pekerjaan rumah tangga, tapi buatku yang satu ini tak boleh diambil alihnya karna aku ingin suami dan anak anak mengenal rasa masakan ibunya sendiri … walau terkadang sedikit kurang garam atau kelebihan gara ( asin), tapi itu selalu memotifasiku untuk berbuat yang lebih baik lagi ….
Tak lama berselang bel rumah berbunyi, seorang yang membantuku datang …
“assalamu’alaikum …” sahutnya
“wa’alaikum salam …” segera kubukakan pintu dan memprsilahkannya masuk
“Anak anak masih tidur ya bu kok sepi” sahutnya lagi
“ iya “ jawabku singkat sambil menaruh sarapan dibeberapa piring untuk anak anak dan suami
“ bunda …. Muah “ kecupan sulungku yang baru terbangun, tak lama adik adiknya pun menyusul dan mereka bersiap untuk makan …
“ eit wudhu dulu dong, terus shalat baru boleh makan “ sambil kupencet hidungnya yang bangir
“ ahh … iya deh “ mereka pun berlalu walau sedikit menggerutu
Beberapa saat kami pun berbincang sambil menikmati sarapan pagi
Suami terlebih dulu pamit kerja “ ayah berangkat dulu ya !! diciuminya semua anak anak dan kucium tangannya dan diapun mengecup keningku “
Kami selalu mengucap kata yang sama “ hati hati ayah “ “ barakallah “ do’aku dalam hati
“iya” sahutnya sambil tersenyum
“mandi .. mandi .. mandi yu siapa yang mau dimandikan bunda …”
“aku .. aku .. aku …” mereka memang selalu berebut ingin mendapat giliran pertama
“sabar … dong tunggu giliran “ aku berkata sambil menahan badanku yang hampir terjatuh karena ulah mereka yang saling dorong … jadi ‘gr’ direbutin mereka neh
Tak lama setelah mereka siap dengan seragam yang lengkap mereka menunggu sambil membaca
Tet … tet … jemputan sekolah sulungku tiba di depan rumah .. seperti biasa si sulung ngerajuk aku tuk mengantarkannya sampai depan pintu mobil dan sesaat dia pun pergi setelah mencium tanganku dan aku mencium keningnnya
‘ barakallah’ kata yang kuucap untuknya …
“ dadah bunda “ sahutnya …
“ hati hati ya sayang … “
Rutinitas pagiku masih padat hmm anakku yang kedua belum lagi di jemput oleh jemputan yang lainnya karena memang mereka berbeda sekolah .. sesaat jemputannya datang dan diapun memintaku tuk mengantarnya sampai di depan pintu mobil, dia mencium tanganku begitupun aku mencium keningnnya
“ barakallah, hati hati sayang ..” ucapku
dia pun berkata “ dadah bunda !!! muach ….” memang anakku yang satu ini lebih pandai mengungkapkan perasaan …
sesaat kemudian si kecilpun tak mau kalah tuk mita perhatianku dia memintaku tuk menyetelkan film favorite nya … teletubbies dengan sebutan “ aaoo .. aaoo ..” jari mungilnya menunjuk pada dvd player yang kami miliki …
biasanya dia menghabiskan semangkuk kecil sarapannya sambil menonton … ini satu siasatku
beberapa saat kemudian si kecil pun tertidur dan inilah saatku tuk meneruskan ‘pr’ku yang lain yaitu membaca buku ” catatan hati seorang istri “ bukunya mba asma nadia yang selalu membius pembacanya .. akupun terlarut lama hingga suara telpon genggamku berhasil menggugahku tuk beranjak ..
“ assalamu’alaikum .. “ kata yang kuucap
“wa’alaikum salam .. dengan syakilla ya” sahutnya
“ iya betul, maaf dengan siapa saya bicara” sahutku kemudian karena aku tak mengenal nomornya
“ ini aku orang yang pernah kena tamparanmu, masih ingat ga? “
Sejenak fikiranku meng”eksplor” masa lalu yang sudah lama aku lupakan … dan seketika itu aku ingak seebuah nama …
“ oya aku ingat ada perlu apa ya? “ sahutku tanpa banyak basa basi …
“ nggak sya, aku hanya mau minta maaf padamu, walaupun kejadian itu sdh hmpr 15 tahun lamanya tp itu masih membuatku merasa bersalah padamu, aku sadar kalau aku sudah hampir membuatmu ‘tersentuh’ kumohon maafkan aku “ sahutnya …
“ sudahlah semua sudah aku maafkan dan aku juga sudah melupakannya, semoga hidupmu akan lebih baik “ sahutku “ maaf ya aku gak bisa bicara lama denganmu karena aku harus menjemput anakku “ kilahku karena aku tahu berbohong itu boleh demi kebaikan, karena kurasa tak ada manfaatnya untukku berlama lama berbincang dengannya
“ ok makasih ya sya .. assalamu’alaikum “
“ wa’alaikum salam “
Beberapa detik percakapan itu membutatku meng’kilas balik” masa laluku .. dan kusadari kalau aku adalah gadis yang galak,egois, dan “jaim” julukan temanku
Sungguh semua itu kebanggaanku kini karena aku bisa menjaga diri dan itu adalah buah dari didikan bapa dan ibu .. terima kasihku yang tak terhingga untuk mereka dan semoga mereka selalu diberkahi Allah
Semoga aku dapat mendidik anakku dengan lebih baik dan benar …
Aku berani juga menampar seorang laki laki hanya karena dia berusaha memegang tanganku dan menciumnya .. Alhamdulillah .. memang laki laki seperti harus diberi pelajaran, ada kebanggaan yang menyelinap dalam batinku ..
Dan akupun teringat seorang kakak kelasku yang mencoba mendekatiku dan saat itu dia pun bertandang kerumah kami pun terlibat dalam percakapan, kebetulan keluarga kami berkumpul secara otomatis kondisi ramai hingga suaraku tak terdengar olehnya dia pun mencoba lebih mendekat, maksudnya biar suaraku jelas terdengar olehnya, kebetulan saat itu salah satu kakak laki lakiku melihatnya dan sejak saat itu kakak mengutarakan keberatannya bila aku berteman dengannya, padahal kakak kelasku tak pernah berbuat yang tidak tidak justru karena itulah aku mau berteman dengannya kasihan juga dia … segitu disiplin dan protektifnya keluargaku dan kucoba jelaskan namun sia-sia … saya pun mundur teratur karena keluarga segalanya untukku
Selepas sma aku melanjutkan sekolah dan bekerja di kota Bandung hingga satu hari mempertemukanku pada seseorang dalam satu acara yang diadakan satu kelompok pengajian ..
Singkat kata jadilah kami sepasang suami istri .. Alhamdulillah sekarang kami telah dikaruniai 3 orang putri yang cantik dan lucu lucu
“I’m a mother of three kids, and I’m proud of it”
Alhamdulillah suamiku dewasa dan bertanggung jawab , berjuta kebaikan yang selalu memenuhi hari hariku dan selalu tertulis indah dalam lubuk hati ini, meski memang dia bukan seorang yang romantis tapi dia mampu memikatku begitu dalam …
Dia membebaskanku berpendapat, dia membiarkanku menjadi diri sendiri ..
Dia menghargaiku layaknya dia menghargai ibunya sendiri
Dia menempatkanku pada prioritasnya setelah Allah
Dia selallu memberikan yang terbaik untukku
Dia selalu ada buatku
Dia sosok ayah yang baik
Dia sosok teman yang baik
Dia yang selalu mendengarkan
Dia yang tak pernah berkata dengan nada tinggi
Dia tak pernah mengasariku walau hanya dengan satu kata
Semua ku syukuri dengan dalam .. keluarga kecil yang bahagia sesuai dengan harapanku
Kujalani dengan penuh nikmat ..
Aku tal sanggup berpisah dengannya walau sedetikpun, gumamku
Satu hari yang membuatku tersadar bahwa semua ini adalah titipan Illahi, saat kubaca buku “Catatan hati seorang istri” yang ditulis seorang yang sangat aku kagumi “ Asma Nadia” Sampai pada hal 147 yang diberi judul 2X24 jam tentang kisah nyata seorang istri yang ditinggal suami karena sebuah kecelakaan motor dan meninggalkan 3 orang anak yang masih kecil ….
seketika batinku berucap “Naudzubillah … lindungi suamiku, selamatkan dia, panjangkan umurnya, barakahkan hidupnya ya Allah” tak terasa air mataku menetes deras .. naluriku sebagai istri tergerak dan dadaku terasa sesak …
Aku termenung cukup lama dan aku membayangkan seandainya saya ada di posisi mba inge (tokoh cerita) sanggupkah????????”
Kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari
Dan kita tak bisa menentang qada dan qadarnya
Aku hanya bisa ber’husnudzon’ padaMu
Engkau tidak tidur dalam menjaga umatnya
Engkau selalu berbuat yang terbaik untuk umatnya
Aku pasrahkan segalanya padaMu
Semoga Engkau melindungi semua orang yang kusayangi
Allah maha sempurna dan tak akan ada satupun mahluk yang disia-siakan Nya
Allah aku berlindung padaMu dari segala musibah dan masalah
Allah maha pengatur yang sangat sempurna
Semoga mbak inge selalu dirahmatiNya, amin
Tangisku tertahan setelah kudengar 2 putri kecilku mengucap salam saat mereka pulang sekolah ….
====== Jati asih, September’09’, Syaqilla======
Kesabaranmu adalah introsfeksiku
Kepercaan yang kau berikan adalah penjaga sikapku
Kegigihanmu adalah semangatku
Ketenanganmu adalah penyejuk cintaku
Pengetianmu yang dalam adalah baktiku untukmu
Sikap penyayangmu adalah pupuk cintaku
Kau selalu dengar keluhku walau kau letih
Kau sanggup memasak saat ku tergolek sakit
Kau tak pernah berkata kasar padaku
Kau menghargaiku seperti kau menghargai ibumu
Kau selalu semangat bermain dengan anak anak saat kau pun letih
Kau sanggup terjaga saat anak sakit walau kau harus bekerja keesokannya
Kau tak pernah mengeluh ketika anak anak mengganggumu saat kau makan
Dan berjuta kebaikanmu yang lain
Semua itu ketampanan sejatimu
Kaulah sosok suami, ayah dan teman yang baik untuk kami
Ya Allah terima kasih atas anugerah ini, dan semoga ridhoMu selalu bersamanya, amin
Suamiku, izinkan aku mencintaimu lebih dari selamanya ….
Jati asih 9 oktober 2009
Love U,
Bunda